My Inspiration

Nama   : Agvinta Nilam Wahyu Yudhichia

NRP    : B04100060

Orang tua adalah orang yang sangat berarti dalam kehidupan ku.   Orang tua memberi nyawa bagi perjalanan hidupku. Bagi ku orang tua memiliki andil penting bagi setiap tahap yang aku jalani hingga saat ini. Selama  delapan  belas tahun orang tua ku kasih sayang yang tiada taranya. Orang tuaku adalah orang yang menginspirasi ku hingga aku termotifasi untuk mengejar semua cita-citaku. Ayah ku bekerja bekerja menjadi seorang guru di salah satu SD di Kecamatan Juwangi yang lokasinya puluhan kilometer dari tempat tinggalku saat ini. Berangkat dari jam enam pagi dan pulang sekitar jam dua siang, setelah itu pergi ke kebun untuk mencari makan ternak. Rutinitas itu selalu dilakukannya stiap pagi tanpa lelah. Sedangkan ibu jaga harus banting tulang bekerja mencari nafkah dengan bekerja sebagai seorang karyawan swasta di salah satu pabrik di daerah ku. Dari jam enam pagi hingga jam empat sore dihabiskan ibuku di pabrik tempat ibuku bekerja. Selain itu aku jaga mempunyai tiga orang adik yang juga menjadi motivator dalam hidupku. Walaupun badan ini kelelahan tetapi setelah melihat senyum manis mereka rasanya lelah itu bias langsung hilang seketika. Adiku yang pertama sekarang duduk dikelas dua SMA di SMAku dulu, sedangkan kedua adikku adalah gadis kembar yang sangat lucu yang sekarang duduk di kelas satu SD di daerah tempat  tinggalku. Karena rutinitas orang tua ku itu sekarang ketiga adikku tidak terlalu terurus, semua keluargaku baru dapat berkumpul bersama hanya pada malam hari dan waktu hari libur nasional. Hal itu yang melatarbelakangiku untuk segera sukses dan membantu orang tua ku membiayai pendidikan adik-adikku.

Pengalaman kegagalan  usaha ternak orang tuaku juga menjadi salah satu penyebab kenapa aku ingin sekolah di Institut Pertanian Bogor. Kejadian itu bermula pada saat awal kelas tiga SMA, pada saat itu ayahku berniat untuk berwirausaha ternak jenis unggas, dan yang dipilih ayahku adalah bisnis bebek petelur. Pada saat itu ayahku memperoleh modal dari pinjaman di Bank yang jumlahnya lumayan besar. Dan uang tersebut digunakan untuk membangun kandang bebek dan membeli bebek siap bertelur. Bebek yang dibeli ayahku sekitar dua ratus ekor. Tiap hari aku dan ayahku bekerjasama untuk memberi makan. Dan untuk makan bebek saja membutuhkan biaya yang besar. Rutinitas itu aku dan ayahku lakukan setiap hari. Dan apa hasilnya setelah beberapa bulan bebek-bebek yang kami perihara tidak kunjung bertelur, padahal makanan yang bebek-bebek kami habiskan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pada saat itu kami masih bersabar, dan masih berharap bebek-bebek kami bertelur. Tetapi lambat laun dengan kami menyerah, disamping ayah ku sudah kehabisan biaya untuk memberi pakan bebek, adikku juga terkena alergi yang mungkin karena bulu bebek-bebek itu. Setelah itu ayahku memutuskan untuk menjualnya dan uangnya digunakan untuk memberangkatkan aku ke Bogor. Dan pengalaman ayahku itu yang membuat saya penasaran kenapa bebek-bebek kami waktu itu tidak mau bertelur, dan bagaimana agar bebek-bebek itu mau bertelur. Itulah yang melatarbelakangi aku masuk ke IPB yang terkenal dengan kewirausahaan dan pastinya di bidang pertanian khususnya ternak. Dan sekarang orang tuaku juga mencoba untuk berwirausaha dengan cara beternak ayam petelur. Tekat dan usaha orang tuaku yang masih mau mencoba tanpa menyerah itu yang menginspirasiku untuk tetap berjuang pantang menyerah untuk meraih cita

Comments